MAKNA SIMBOLIK PADA PAKAIAN ADAT MASYARAKAT SUKU ABUI (ABUI NAMANG) DI KAMPUNG TRADISIONAL TAKPALA DESA LEMBUR BARAT KECAMATAN ALOR TENGAH UTARA KABUPATEN ALOR
Keywords:
Pakaian Adat, Makna Simbolik, Kampung Tradisional TakpalaAbstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) mendeskripsikan alasan mengapa pakaian adat masih dipertahnkn oleh masyarakat Suku Abui di Kampung Tradisional Takpala Desa Lembur Barat Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor (2) mendeskripsikan makna simbolik yang terkandung dalam pakaian adat masyarakat Suku Abui di Kampung Tradisional Takpala Desa Lembur Barat Kecamatan Alor Tengah Utara Kabupaten Alor. Penelitian ini menggunakan metode deskiptif kualitatif yaitu meneliti suatu objek dengan menghimpun, menggambarkan dan menganalisis data dan fakta serta menarik kesimpulan dari data primer maupun data sekunder yang telah diperoleh saat berada di lapangan dalam bentuk kalimat yang jelas sehingga mudah untuk dipahami. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pakaian adat masyarakat Suku Abui di Kampung Tradisional Takpala masih dipertahankan oleh mereka hingga saat ini karena adanya lima alasan utama yang mendasari, yaitu alasan sejarah, alasan religius/kepercayaan, alasan sosial, alasan budaya dan alasan pendidikan. Adapun makna simbolik yang terkaandung dalam keseluruhan pakaian adat masyarakat Suku Abui di Kampung Tradisional Takpala yaitu dimaknai sebagai telah terjad isuatu hal besar atau sedang terjadi suatu hal besar. Adapula makna simbolik dari aksesorisnya yaitu (1) untuk laki-laki: Biak Neng, memiliki makna Kampung Takpala, Sora memiliki makna kekuasaan yang ditandai dengan perang, Ko’ling, memiliki makna pertahanan terhadap musuh, Kamol, memiliki makna menjamu tamu, Kawel/Sapada, memiliki makna kerja keras, Bineng Tuk, Kak, Kafuk, Pet, memiliki makna kekuatan dan kesabaran, Basa, memiliki makna tidak akan lemah dan lapar kemanapun si pengguna pergi (2) untuk perempuan: Kiti-kiti, memiliki makna Kampung Takpala. Pak’ai atau Fulak, memiliki makna menjamu tamu, Seling dan Lasing, memiliki makna semangat persaudaraan, Awering dan Fota, memiliki makna keanggunan kaum perempuan, Kanotang, memiliki makna hubungan yang erat, Fok, memiliki makna kemanapun si pengguna pergi, ia tidak akan merasa lapar. Penulis tertarik dengan pakaian adat Kampung Tradisional Takpala, karena pakaian adat tersebut merupakan salah satu pakaian adat yang cukup terkenal dan banyak peminatnya di Kabupaten Alor. Hal ini dikarenakan Kampung Tradisional Takpala itu sendiri merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Alor yang telah mendunia sehingga menarik cukup banyak pengunjug tiap tahunnya. Para pengujung biasanya sangat antusias mengenakan pakaian adat yang disediakan untuk dapat berfoto ria, tetapi pengunjung pada umumnya tidak mengetahui bahwa ada makna simbolik dibalik pakaian adat yang mereka gunakan sehingga terlihat kurang memaknai akan apa yang mereka kenakan.
References
Amir MS. 2001. Adat Minangkabau Pola dan Tujuan Hidup Orang Minang. Jakarta: Mutiara Sumber Widya
Ansaar, A. 2018. Makna Simbolik Pakaian Adat Mamasa di Sulawesi Barat. Dalam jurnal Pangadereng, Vol. 4 No. 1, Juni 2018.
Badan Pusat Statistik Jakarta Pusat, 2010. Statistik Indonesia Tahun 2010. Jakarta Pusat: Badan Pusat Statistik
Chalik, Husein A. 1992/1993. Pakaian adat Tradisional Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. Kendari Bagian Proyek Penelitian Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Sulawesi Tenggara.
Effendi, Ridwan. 2018. “Relasi Simbol Terhadap Makna Dalam Konteks Pemahaman Terhadap Teksâ€. Vol. 1 No. 1, Oktober 2018.
Fatmawati. 2019. “Makna Simbol Pakaian Pernikahan Adat Buton†dalam Jurnal Bastra, Vol. 4 No. 2, (2019) ISSN 2302- 2043.
Goo, Andreas, 2012. Kamus Antropologi. Jayapura : Lembaga Studi Meeologi
Hanifah, Urfi. 2015. “Studu Tentang Bentuk, Fungsi dan Makna Pakaian Adat Pangulu Kanagarian Sungai Janiah Kecamatan Gunung Talang Kabupaten Solok Provinsi Sumatera Baratâ€. Skripsi. Fakultas Bahasa dan Seni, Jurusan Seni Rupa, Universitas Negeri Padang, Padang.
Harsojo, H. 1988. Pengantar Antropologi. Bandung: Binacipta
Kaelan, H. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Malang: UMM Press.
Koentjaraningrat. 2009. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta
Koten, B.K, dkk. 1991. Pakaian Adat Tradisional Daerah Provinsi NTT. Yogyakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan



