Efek substitusi Jagung Giling dengan Tepung Tongkol Jagung Hasil Fermentasi Khamir Saccharomyces cerevisiae dalam Pakan Konsentrat terhadap Produksi VFA Parsial
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v2i1.211Keywords:
fermentation, Saccharomyces, corn cobs, VFAAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi jagung giling dengan tepung tongkol jagung hasil fermentasi khamir Saccharomyces cerevisiae (TTJF) dalam pakan konsentrat terhadap produksi VFA parsial (asam asetat, asam propionat dan asam butirat). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan tersebut adalah Perlakuan tersebut adalah P0 = konsentrat tanpa TTJF (sebagai kontrol); P1 = konsentrat + 10%TTJF menggantikan jagung giling; P2 = 20%TTJF menggantikan jagung giling; dan P3 = 20%TTJF menggantikan jagung giling. Hasil penelitian menunjukkan nilai rataan perlakuan konsentrasi asam asetat (mM) P0 = 17,87 0,10; P1 = 17,04 0,12; P2 = 16,26 0,49; P3 = 15,95 0,58; rataan konsentrasi asam propionat (mM) P0 = 9,53 0,23; P1 = 11,03 0,34; P2 = 9,77 0,17; P3 = 8,76 0,84 dan rataan konsentrasi asam butirat (mM) adalah P0 = 7,17 0,83; P1 = 7,00 0,77; P2 = 4,68 0,20 dan P3 = 4,55 0,31. Hasil analisis Ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap nilai konsentrasi VFA parsial. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah penggunaan 20% tepung tongkol jagung terfementasi Saccharomyces cerevisiae mesubstitusi 66. 67% dari 30% jagung giling dalam konsentrat meningkatkan konsentrasi asam propionat, memberikan hasil yang relatif sama terhadap konsentrasi asam butirat dan menurunkan konsentrasi asam asetat..
Kata kunci : fermentasi, Saccharomyces, tongkol jagung, VFA
The aim of the research was to evaluatee the effect of corn mills substitution with Saccharomyces cerevisiae fermented corn cob meal (CCF) in concentrate feed on partial VFA production (acetic acid, propionate acid and butirate acid). Trial method using Complete Randomized Design (CRD) 4 treatments with 3 replicates was applied. The treatments were P0 = concentrate without FCF (control); P1 = concentrate + 10% FCF substituting corn meal; P2 = concentrate + 20% FCF substituting corn meal; and P3 = concentrate + 30% FCF substituting corn meal. The average results obtained were: acetic acid concentration (mM) P0 = 17.87 0.10; P1 = 17.04 0.12; P2 = 16.26 0.49; P3 = 15.95 0.58; propionate acid concentration (mM) P0 = 9.53 0.23; P1 = 11.03 0.34; P2 = 9.77 0.17; P3 = 8.76 0.84; and butyric acid concentration (mM) is P0 = 7.17 0.83; P1 = 7.00 0.77; P2 = 4.68 0.20 and P3 = 4.55 0.31. Statistical analysis shows that effect of treatmenthad is highly significant (P<0.01) on partial VFA concentration. The conclusion is that using 20% fermented corn cob meal substituting 66.67% corn meal in the concentrate feed increase the concentration of propionic acid, performs the similar results in butyric acid but decreases acetic acid concentration.
Keywords : fermentation, Saccharomyces, corn cobs, VFA
References
Association of Official Analytical Chemists. 1990. Official Methods of Analysis. 12th. Ed. Washington, DC Washington, DC (USA): Association of Official Analytical Chemistry.
Badan Pusat Statistik, NTT. 2016. NTT Dalam Angka. Badan Pusat Statistik (BPS) NTT. Kupang.
Guntoro S. 2005. Processing plantation waste for livestock feed source.. Warta Prima Tani 1 (1): 8–11.
Guntoro S. 2008. Memmbuat Pakan Ternak dari Limbah Perkebunan. Cetakan Pertama. PT. Agromedia Pustaka. Jakarta
Hilali M, Rischkowsky B, Iniguez L, Mayer H, and Screiner, M. 2018. Changes in the milk fatty acid profile of awassi sheep in response to supplementation with agra-industrial by-products. J. Small Ruminant Research. 166: 93-100.
Jayanegara A dan Sofyan A.2008. Penentuan aktivitas biologis tanin beberapa hijauan secara In Vitro menggunakan “Hohenheim Gas Test†dengan Polietilen Glikol sebagai determinan. Media Peternakan Vol. 31 No. 1. Bogor. Institut Pertanian Bogor.
Mardalena. 2015. Evaluasi serbuk kulit nenas sebagai sumber antioksidan dalam ransum kambing perah Peranakan Etawah secara in vitro. J. Ilmu-ilmu Peternakan 18 (1): 14-21.
McDonald P, Edwards RA, Greenhalgh JFD and Morgan CA. 2002. Animal Nutrition. 5th Edition. Longman Scientific and Technical, New York.
Pamungkas D, Anggraeni YN, Kusmartono dan Krishna NH. 2008. Produksi asam lemak terbang dan amonia rumen sapi bali pada imbangan daun Lamtoro (L. Leucocephala) dan pakan lengkap yang berbeda. Seminar Teknologi Peternakan dan Veteriner, Malang.
Parakkasi A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia. Universitas Indonesia Press, Jakarta
PurwadariaT, Haryati T dan Darma J. 1994. Isolasi dan seleksi kapang mesofilik penghasil mananase (Isolation and selection of mesophylic molds producing mannanases). Jurnal Ilmu & Peternakan 7(2): 26-29.
Putra K. 2001. Pemanfaatan bekatul untuk produksi bioetanol ditinjau dari berbagai konsentrasi HCl. Skripsi. Program Studi Kimia, Fakultas Sains dan Matematika, Universitas Kristen Satya Wacana. Salatiga.
Santoso B, Hariadi BT, Manik H dan Abubakar H. 2009. Kualitas rumput unggul tropika hasil ensilase dengan bakteri asam laktat dari ekstrak rumput terfermentasi. Jurnal Media Peternakan 32: 137-144.
Steel RGD dan Torrie JH. 1989. Prinsip dan Prosedur Statistika. Jakarta: PT. Gramedia
Suriawiria U. 1990. Pengantar Biologi Umum. Penerbit Angkasa. Bandung.
Uhi HT, Parakkasi A dan Haryanto B. 2006. Pengaruh suplementasi katalitik terhadap karakteristik dan populasi mikroba rumen domba. Media Peternakan, 29(1): 20-26.










