Potensi Jenis dan Keragaman Vegetasi Kawasan Agrosilvopastura di Desa Linamnutu Kecamatan Amanuban Selatan Kabupaten Timor Tengah Selatan
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v2i1.218Keywords:
species, vegetation diversityAbstract
Penelitian dilakukan di kawasan hutan Binel, Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui komposisi vegetasi, keanekaragaman vegetasi dan vegetasi yang digunakan sebagai pakan pada kawasan agrosilvopastura Desa Linamnutu. Metode pengambilan data menggunakan cara transek, berukuran 1 km (1000) meter. Pada setiap pengambilan sampel, transek terdiri dari plot ukur per transek, kemudian setiap plot dibagi menjadi 10 bagian yang sama besar pada tingkat pohon, tiang, pancang, dan semai, sedangkan perhitungan indeks keanekaragaman vegetasi Shannon menggunakan perangkat lunak PAST 3.0 (Paleontological Statistics). Hasil analisis SDR terhadap komposisi vegetasi lokasi agrosilvopastura Desa Linamnutu, yaitu fase pohon didominasi oleh Borassus flabelifer dengan nilai SDR 43,73%; fase tiang didominasi oleh Tun molo dengan nilai SDR 15,93%; fase pancang didominasi oleh Chromolaena odorata dengan nilai SDR 18,19% dan fase semai didominasi oleh Lophatherum gracile dengan nilai SDR 24,07%. Hasil analisis indeks keanekaragaman setiap fase tergolong sedang. Disimpulkan bahwa komposisi vegetasi pada lokasi agrosilvopastura Desa Linamnutu terdapat 45 jenis spesies yang didominasi oleh Borassus flabelifer dan potensi serta keanekaragaman vegetasi yang digunakan sebagai pakan yaitu 27 spesies dengan nilai SDR 65,90% yang didominasi oleh tanaman pakan tidak palatabel yaitu Tamarindus indica (nilai SDR 9,54%) dan tanaman pakan palatabel yaitu Acacia leucophloea (nilai SDR 7,98%).
Kata kunci : jenis, keragaman, vegetasi, kawasan agrosilvopastura
The study conducted the Binel forest area Linamnutu Village, South Amanuban District, South Timor Central District. The purpose study was determine the composition of vegetation, vegetation diversity and vegetation used as feeding the agrosilvopastura area Linamnutu Village. The method data taking sampling using the transect, measuring 1 km (1000) meters. The each sampling, transects consist measuring plots per transect, then each plot divided into 10 equal portions each level of tree, pole, sapling, and seedling. Whereas the calculation Shannon index of general diversity using PAST 3.0 software (Paleontological Statistics). The results SDR analysis of vegetation composition agrosilvopastura location in Linamnutu Village, namely tree phase dominated by Borassus flabelifer with SDR value 43.73%; the pole phase dominated by Tun molo with SDR value 15.93%; the sapling phase dominated by Chromolaena odorata with SDR value 18.19%; and the seedling phase dominated by Lophatherum gracile with SDR value 24.07%. Results analysis the index of general diversity each phase classified moderate. Conclusion composition vegetation the agrosilvopastura location Linamnutu Village, there are 45 species of species dominated by Borassus flabelifer and the potential and diversity of vegetation used feed namely 27 species, had SDR value 65.90%, dominated by non palatable feed plants is Tamarindus indica with SDR value 9.54%. and palatable feed plants is Acacia leucophloea with SDR value 7.98%.
Keywords : species, vegetation diversity, agrosilvopastura area
References
Anuragi JL, Mishra RP. 2017. Ethnomedicinal Study of Schleichera oleosa Among The Tribals of Satna (M.P.). International Journal of Applied Research 3(3): 672–674.
Arief. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hlm. 40,50
Arief H, Firman A, Khaerani L, Islami RZ. 2012. Inventarisasi dan Pemetaan Lokasi Budidaya dan Lumbung Pakan Ternak Sapi Potong. Jurnal Ilmu Ternak. 12:26-34.
Arrijani. Dede, Setiadi. Edi, Guhardja dan Ibnul, Qayim. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango.Jurnal Biodiversitas. 7(2):147— 153.
-----------. 2008. Struktur dan Komposisi Vegetasi Zona Montana Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Biodiversitas, 9 (2) : 134-141.
Asmayannur I, Chairul, Syam Z. 2012. Analisis Vegetasi Dasar di Bawah Tegakan Jati Emas (Tectona grandis L.) dan Jati Putih (Gmelina arborea Roxb.) di Kampus Universitas Andalas. Jurnal Biologi. Universitas Andalas, 1 (2) : 172 – 177.
Aththorick TA, Widhiastuti R,dan Evanius A. 2006. Studi Keanekaragaman Pohon pada Tiga Zona Ketinggian Hutan Pegunungan Gunung Sinabung Kabupaten Karo. Jurnal Komunikasi Penelitian, Vol. 18, No.3, Hal. 32-39.
Bees TM. 2018. Identifikasi Keragaman Vegetasi di Kawasan Hutan Produksi Terbatas Yang Digunakan Sebagai Pakan di Desa Niukbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang. Skripsi Fapet Undana, Kupang.
Damry. 2009. Produksi dan Kandungan Nutrien Hijauan Padang Penggembalaan Alam di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. Jurnal Agroland. 16:296-300.
Djufri 2003. Analisis Vegetasi Spermatophyta di Taman Hutan Raya (TAHURA) Seulawah Aceh Besar. Biodioversitas. 4(1):30-34.
Indriyanto 2006. Ekologi Hutan. Bumi Aksara. Jakarta
Kunarso A dan Azwar F. 2013. Keragaman Jenis Tumbuhan Bawah pada Berbagai Tegakan Hutan Tanaman di Benakat, Sumatera Selatan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman Vol. 10 No. 2, Hal. 85- 98, Juni 2013ISSN: 1829-6327.
Kustantinah, Hartadi H dan Irwansyah RS. 2007. Pengaruh Suplementasi pada Pakan Basal Rumput Raja terhadap Kinerja Kambing Bligon yang Dipelihara KWT Lestari Dusun Kwarasan, Kecamatan Nglipar, Kabupaten Gunungkidul. Prosiding Seminar Nasional AINI IV 26-27 Juli 455-461
Lundgren BO dan Raintree JB. 1982. Sustained Agroforestry. In Nestel B (Ed.). 1982. Agricultural Research for Development. Potentials and Challenges in Asia. ISNAR, The Hague, The Netherlands.
Nugraha BD, Handayanta E dan Rahayu ET. 2013. Analisis Daya Tampung (Carrying Capacity) Ternak Ruminansia pada Musim Penghujan di Daerah Pertanian Lahan Kering Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Tropical Animal Husbandry 2 (1): 34-40.
Nugroho AS, Anis T dan Ulfah M. 2015. Analisis Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Berbuah di Hutan Lindung Surokonto, Kendal, Jawa Tengah dan Potensinya Sebagai Kawasan Konservasi Burung. Prosiding Seminar Nasional Masyarakat Biodiversitas Indonesia,Vol. 1, No. 3, Hal. 472-476, Juni 2015 ISSN: 2407-8050.
Nurdiati K, Handayanta E, dan Lutojo. 2012. Efisiensi Produksi Sapi Potong pada Musim Kemarau di Peternakan Rakyat Daerah Pertanian Lahan Kering Kabupaten Gunung Kidul. Jurnal Tropical Animal Husbandry 1(1): 52–58.
Nuttapon C and Naiyatat P. 2009. The Reduction of Mimosine and Tannin Contents in Leaves of Leucaena leucocephala. Asian J. of Food and Agro-Industry, S137-S144.
Onrizal C, Bambang K, Suharjo H, Handayani IP dan Kato T. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Tropika Dataran Rendah Sekunder Di Taman Nasional Danau Sentarum, Kalimantan Barat. Jurnal Biologi 4(6): 359—372.
Prawiradiputra BR. 2006. Hijauan Pakan Ternak di Indonesia. Badan Litbang Pertanian.
Purnomo DW dan Usmadi D. 2012. Pengaruh Struktur dan Komposisi Vegetasi Dalam Menentukan Nilai Konservasi Kawasan Rehabilitasi di Hutan Wanagama I dan Sekitarnya. Jurnal Biologi Indonesia, 8 (2), 255-268.
Rahmasari, Kusuma, dan Esty. 2011. Komposisi Dan Struktur Vegetasi Pada Areal Hutan Bekas Terbakar (Di Areal UPT Taman Hutan Raya R. Soerjo, Malang). Skripsi. Bogor: Institut Pertanian Bogor.
Senoaji G. 2012. Pengelolahan Lahan dengan Sistem Agroforestri Oleh Masyarakat Baduy di Banten Selatan. Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian. Universitas Bengkulu. Volume 12 No. 2: 283, 287--288.
Setyo Antoko B, Sanudin & Sukmana A. 2008. Perubahan Fungsi Hutan di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Info HutanVol. V No. 4: 307-316, 2008.










