Pengaruh Penggunaan Tepung Krokot (Portulaca oleracea L.) dalam Ransum Terhadap Konsumsi dan Kecernaan Serat Kasar dan Lemak Kasar Ternak Babi Peranakan Landrace Fase Grower-Finisher
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v2i2.393Keywords:
pig, purslane, intake, digestibility, dry matter, organic matterAbstract
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung krokot dalam ransum terhadap konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik ternak babi landrace fase grower-finisher. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi peranakan landrace, berumur 4-5 bulan dengan bobot badan awal 65 – 77 kg dengan rataan 72,42 kg (KV=25,47%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R0: 100% ransum basal tanpa tepung krokot (kontrol), R1: 95% ransum basal + 5% tepung krokot, R2: 92,5% ransum basal + 7,5% tepung krokot, R3: 90% ransum basal + 10% tepung krokot. Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Hasil analisis stastistika menunjukkan bahwa penggunaan tepung krokot 0%, 5%, 7,5% dan 10% memberikan perbedaan yang tidak nyata (P > 0,05) pada konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik. Disimpulkan bahwa penggunaan tepung krokot 5% 7,5% dan 10% dalam ransum menghasilkan konsumsi dan kecernaan bahan kering dan bahan organik yang relatif sama.
Kata kunci: babi, krokot, konsumsi, kecernaan, bahan kering, bahan organik.
The study aimed at evaluating the effect of including Purslane (Portulaca oleracea L) leaves meal into basal diet on intake and digestibility of dry matter and organic matter of grower-finisher landrace crossbred pig. There were 12 landrace crossbred pigs 5-6 months of age with 56 - 75 (average 72.42) kg and CV 25.47% initial body weight used in feeding trial. Trial method using randomized Block design 4 treatments with 3 replicates procedure was applied. The 4 treatments diets used in the feeding trial were: R0: 100% basal diet without purslane meal (control); R1: basal diet 95% + 5% purslane meal; R2 basal diet 92,5% + 7,5% purslane meal; R3: basal diet 90% + 10% purslane meal. Variables evaluated in the study were: intake and digestibility of dry matter and organic matter. Statistical anlysis shows that effect of including purslane leaves meal into basal feed were not significant (P>0.05) on either intake or digestibility value of either dry matter or organic matter in the pig. The conclusion is that inclduing Purslane leaves meal into basal diet performs the similar results in both intake and digestibility of both dry and organic in grower-finisher pig.
Key words: pig, purslane, intake, digestibility, dry matter, organic matter.
References
Amtiran, A. L., I Made, S. A., Grace, M. 2018. Penggunaan tepung kukit pisang terfermentasi terhadap konsumsi, kecernaan bahan kering dan bahan organik pada ternak babi. Jurnal Nucleus Peternakan. Vol. 5 (2). 92-98.
Aknesia, E. Y., Ch. J. Pontoh., J. F. Umboh., C. A. Rahasia. 2018. Pengaruh substitusi dedak halus dengan tepung kulit buah kopi dalam ransum terhadap kecernaan bahan kering dan serat kasar pada ternak babi fase grower. Jurnal Zootek. 38 (1): 84-92.
Budiman, A. I. dan U.H. Tanuwiria. 2005. Jurnal Ilmu Ternak. 5 (1):55-63.
Gaspersz, V. 1991. Metode Perancang Percobaan. Armico. Bandung.
Ismaya, L. dan Admin M. 2018. Penggunaan limbah kulit kopi terfermentasi terhadap daya cerna ternak itik. Jurnal Ilmiah Peternakan: 6 (2): 77-83. (Diakses 5 November 2018)
Jaya, Kipgas, Mahardika IG, Suasta IM. 2015. Pengaruh Penggantian Ransum Komersial Dengan Ampas Tahu Terhadap Penampilan Babi Ras. Peternakan Tropika: 3 (3):482-491.
Kanyinji, F.and C. Zulu. 2014. Effects of Partially Replacing Soybean Meal in Gramower Diets with Pawpaw (Carica papaya) Leaf Meal on Nutrient Digestibility and Gramowth Performance of Japanese Quails (Cortunix japonica). International Journal of Livestock Research. l 4(5): 7-14.
Kardinan, Agus. 2007. Inklusi Tamanan Krokot (Portulaca oleracea L.) Sebagai Obat dan Ramuan Tradisional Untuk Mengatasi Demam Berdarah Dengue. Jakarta: Agromedia pustaka.
Manafe, M. E., M. L. Mullik Dan F. M. S. Telupere., 2019 Performans Ayam Broiler Melalui Penggunaan Tepung Krokot (Portulaca oleracea L) Yang Disubtitusikan Dalam Ransum Komersial. Jurnal Nukleus Peternakan; 7, No. 1: 84 – 9.
Marek R, Lenka G. Jiri D. 2007. Quaternary protoberberin alkaloids. Phytochemistery. 68:150-966.
Mangisah, I., B. Sukamto dan M. H Nasution. 2009. Implementasi daun ecen gondok fermentasi dalam ransum itik. J. Indon Trop. Anim Agric 34(20): 127-13. (Diakses 5 November 2018).
Mullik ML, Yusuf LH, Dato OD. 2015. Substitusi tepung krokot (portulaca oleraceae L) dalam ransum ayam broiler untuk produksi daging rendah kolesterol dan kaya anti-oksidan. Laporan Penelitian. Program Studi Ilmu Peternakan Program Pasca Sarjana Universitas Nusa Cendana Kupang.
Nation Research Countil. 1998. Nutrien Requirement Of Swine. 10th ed: National academy Press. Washington, D.C.
Parakkasi, A. 1990. Ilmu Gisi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa Bandung.
Rasak, A. D., K. Kiramang dan M. N. Hidayat. 2016. Pertambahan bobot badan, komsumsi ransum dan konversi ransum ayam ras pedaging yang diberikan tepung daun siri ( Piper Betlen Linn) sebagai imbuhan pakan. Jurnal Ilmu dan Industri Peternakan. 3(1): 135-147. (diakses, 10 desember 2018).
Ronald, R., B. Tulung, J. S. Mandey dan M. Regar. 2016. Penggunaan enceng gondok (Eichhornia crassipes) terfermentasi dalam ransum itik terhadap kecernaan kering dan bahan organik. Jurnal zootek 36 (2): 372-378 (Diakes 12 Desember 2018).
Saleh, E. N. S. Y. P. Dwi dan Jeffrienda. 2005. Pengaruh pemberian tepung krokot terhadap performans ayam broiler. Jurnal Aribisnis Peternakan. 1 (1) 14-16 (Diakes 12 Desember 2018).
Sibbald I.R. 2009. Estmation of bio available amino acids in feeding stuffs for poultry and pigs: a reriew with emphasis on balance experiment. Can Jurnal. Sci 67: 221-301.
Soeparno, 2005. Ilmu dan teknologi Daging. Gadjah Mada University press. Yogyakarta.










