Pengaruh Konsentrasi dimethyl sulfoxide dalam Pengencer Air Kelapa Muda dan Estrak Daun Kelor Terhadap Kualitas Semen Beku Sapi Bali (Effect of dimethyl sulfoxide concentration in Coconut Water and Moringa Leaves Extract on the Quality of Frozen Semen of
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v1i4.400Keywords:
DMSO, coconut, egg yolk, moringa, bali bull, frozen semenAbstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menguji pengaruh konsentrasi dimethyl sulfoxide (DMSO) dalam pengencer air kelapa kuning telur ekstrak daun kelor (AKKTEDK) terhadap kualitas semen beku sapi bali. Semen ditampung dua kali seminggu menggunakan metode vagina buatan dari satu ekor sapi bali jantan berumur tiga tahun. Semen yang memiliki motilitas >70%, konsentrasi >800x106/ml dan abnormalitas < 15% diencerkan dalam pengencer AKKTEDK dengan konsentrasi DMSO 3, 5, dan 7%. Semen yang sudah diencerkan dikemas dalam ministraw 0,25 mL, kemudian diekuilibrasi pada suhu 5 oC selama 4 jam. Semen dibekukan diatas uap nitrogen cair selama 10 menit. Semen beku selanjutnya disimpan pada kontainer nitrogen cair untuk pengujian lebih lanjut. Evaluasi dilakukan pasca-pengenceran, pasca-ekuilibrasi dan pasca thawing, terhadap motilitas, viabilitas, abnormalitas dan recovery rate spermatozoa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi DMSO tidak memengaruhi kualitas semen pasca-pengenceran dan pasca-ekuilibrasi (p>0,05). Konsentrasi DMSO 3% menunjukkan motilitas, viabilitas dan recovery rate tertinggi (p>0,05) dibandingkan dengan DMSO 5 dan 7%. Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah konsentrasi DMSO terbaik dalam pengencer air kelapa kuning telur ekstrak daun kelor adalah 3% untuk pembekuan semen sapi bali.
Kata kunci: DMSO, kuning telur, kelor, semen, sapi bali
The purpose of this study was to examine the effect of dimethyl sulfoxide (DMSO) concentration in coconut water egg yolk moringa leaf extract (CWEYMLE) extender on the quality of bali bull frozen semen. Semen were collected twice a week using an artificial vaginal method from three year old bali bull. Semen with >70%, concentration of >800x106/ml and abnormalities <15% were diluted with CWEYMLE extender with three differerent DMSO concentration, namely 3, 5, and 7%. diluted semen than packed into 0.25 ml ministraw and equlibrate at 5 oC for four hours. Semen than freeze above liquid nitrogen pavour for 10 minutes and stored at liquid nitrogen tank for futher evaluation. Evaluation was carried out during post dilution, post equilibration and post thawing includes motility, viability, abnormalities and recovery rate of spermatozoa. Results showed no significanly different on the quaility of semen post dilution and post equlilibtarion. Post thawing quality demonstrated 3% DMSO were higher (p>0,05). on sperm motility, viability and RR then 5 and 7% DMSO. In clonclusion 3% DMSO was the best concentration in coconut water egg yolk moringa leaf extract externder on the quality of bali bull frozen semen.
Keyword : DMSO, coconut, egg yolk, moringa, bali bull, frozen semen
References
Aerens CD, MN Ishan dan N Isnaini. 2012. Perbedaan kuantitatif dan kualitatif semen segar pada berbagai bangsa sapi potong. Malang. 1-10.
Aku S, B Purwantara dan MR Toelihere. 2005. Preservasi semen domba garut dalam berbagai konsentrasi bahan pengencer berbasis lestin nabati, Agriplus, volume 17 No 01:45-47 Ahx RL. 2000. Semen Evaluation. Di dalam : Hafez, E.S.E & B. Hafez, editor. Reproduction in Farm Animal. 7th ed. USA:Lippincot Williams dan Wilkins.
Aminsari PD. 2009. Pengaruh umur terhadap kualitas semen beku sapi limousin. Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya. Malang.
Arifiantini I. 2012. Teknik Koleksi dan Evaluasi Semen. IPB Press, Bogor.
Campbell JR, KL Campbell and MD Kenealy. 2003. Artificial insemination. In: Animal Sciences 4th ed. New York, Mc Graw-Hill.
Evans GW and MC Maxwell. 1987. Salamons artificial insemination of sheep and goats. Butterworths. London.
Feradis. 2010. Bioteknologi reproduksi pada ternak. Alfabeta. Bandung
Garner D L and ESE Hafez. 2000. Spermatozoa and seminal plasma. In : e. S. E. Hfez and b. Hafez (eds). Reproduction in Farm Animals. 7th ed. Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia.
Hafez ESE. 2000. Semen evaluation in reproduction in farm animals. 7th edition. Lippincott Wiliams and Wilkins. Maryland. USA
Hardijanto, Sardjito, T Hermawati, T Susilawati dan TW Suprayogi. 2008. Penuntun praktikum fisiologi dan teknologi reproduksi (IB). Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Universitas Airlangga. Surabaya. P:8-18.
Ihsan MN. 2011. Penggunaan telur itik sebagai bahan pengencer tris kuning telur dan air kelapa muda pada lama penyimpanan yang berbeda. Skripsi. Jurusan Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Halu Oleo. Kendari.
Johnson LA, KF Weitze, P Fiser, WMC Maxwell. 2000. Storage of boar semen. J Anim. Sci. 62: 143-172.
Kamal, A Gubartallah, A Ahmed, Amel, Bakhiet, A Babiker. 2005. Comparative studies on reproductive performance of nubian and saanen bucks under the climatic conditions of khaortum. Jurnal of Animal and Veterinary Advances 4(11):942-944.
Komariah, L Arifiantini dan FW Nugraha. 2013. Kaji banding kualitas spermatozoa sapi Simmental, Limousin, dan Friesian Holstein terhadap spermatozoa Kambing Boer setelah penyimpanan dingin. Jurnal S. Pertanian 3(1) : 347-361 ISSN : 2088-0111.
Mandumpal JB, CA Kreck, RL Mancera. 2011. A molecular mechanism of solvent cryoprotecton in aqueous DMSO solutions. Physical Chemistry chemical physics. Pub Med. 13(9):3839-42.
Ratnawati D, L Affandhy dan Mariyono. 2008. Performa reproduksi sapi perah eks-impor dan lokal pada tiga periode kelahiran di SP2T, KUTT Suka Makmur-Grati, Pasuruan. Semiloka Nasional Prospek Industri Sapi Perah Menuju Perdagangan Bebas – 2020 : 148-152.
Rizal M, Herdis. 2006. Daya hidup spermatozoa epididimis domba garut yang di kriopreservasi menggunakan modifikasi pengencer tris. J. Hayati 12(2) : 61-66.
Salmah N. 2014. Motilitas, presentase hidup dan abnormalitas spermatozoa semen beku sapi Bali pada pengenceran andromed dan tris kuning telur [Skripsi]. Fakultas Peternakan Unversitas Hasanuddin. Makassar. Hal 37-38.
Sokunbi OA, OS Ajani, AA Lawanson and EA Amao. 2015. Antibiotic Potential of Moringa Leaf (Moringa Oleifera Lam) CrudeExtract in Bull Semen Extender. European Journal of medicinal Plants. 9 (2) : 1-8.
Solihati N dan P Kune. 2009. Pengaruh jenis pengencer terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa semen cair sapi simmental. Universitas Nusa Cendana.
Sukmawati E, RI Arifiantini, B Purwantara. 2014. Daya tahan spermatozoa terhadap proses pembekuan pada berbagai jenis pejantan unggul. Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. JITV, 19(3):168-175.
Susilawati T, FE Wahyudi, I Anggraeni, N Isnaini, MN Ihsan. 2016. Penggantian bovine serum albumin pada pengencer cep-2 dengan serum darah sapi dan putih telur terhadap kualitas semen cair sapi Limousin selama pendinginan. Jurnal Kedokteran Hewan. 10 (2): 98-102
Susilawati T. 2011. Spermatozoatology. Universitas Brawijaya Press. Malang.
Toelihere MR. 1993. Inseminasi Buatan pada Ternak. Angkasa, Bandung .
Tolihere MR. 1985. Inseminasi Buatan Pada Ternak. Bandung: Angkasa.
Utomo S dan E Boquifai. 2010. Pengaruh temperatur dan lama thawing terhadap kualitas spermatozoa sapi dalam penyimpanan straw beku. Skripsi. Jurusan Peternakan, Fakultas Pertanian. Universitas Mercu Buana. Yogyakarta. Vol 8(1):22-25
Yani A, Nuryadi, T Pratiwi. 2001. Pengaruh Tingkat Substitusi Santan Kelapa Pada Pengencer Santan Kelapa Terhadap Kualitas Semen Kambing Peranakan Etawa (PE). Skripsi. Fakultas Peternakan. Universitas Brawijaya.
Zelpina E, B Rosadi dan T Sumarsono.2012. Kualitas Sperma Post Thawing dari SemeN Beku Sapi Perah. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan Vol. XV No.2:94-102.










