Efek lama biokonversi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap kandungan nutrisi sabut kelapa tua

Authors

  • Ishak J.N Bureni Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana
  • Maritje Aleonor Hilakore Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana
  • Arnold Eliaser Manu Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana

DOI:

https://doi.org/10.57089/jplk.v2i4.448

Keywords:

sabut kelapa, biokonversi, Pleurotus ostreatus, kandungan nutrisi

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi sabut kelapa tua hasil biokonversi
menggunakan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) pada lama inkubasi yang berbeda. Penelitian ini
menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 3 ulangan. Masing- masing
perlakuan yaitu P1 = biokonversi dengan lama inkubasi 40 hari, P2 = biokonversi dengan lama inkubasi 50
hari, P3 = biokonversi dengan lama inkubasi 60 hari. Variabel yang diukur meliputi protein kasar, serat
kasar, lemak kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Hasil menunjukkan biokonversi sabut kelapa tua
dengan lama inkubasi 50 hari berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bahan ekstrak tanpa nitrogen, tetapi
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap protein kasar dan serat kasar, dan lemak kasar. Berdasarkan
hasil penelitian disimpulkan bahwa lama inkubasi 50 hari memberikan hasil terbaik dalam meningkatkan
kandungan bahan ekstrak tanpa nitrogen.


Kata kunci : sabut kelapa, biokonversi, Pleurotus ostreatus ,kandungan nutrisi

The aim of this study was to evaluate the nutrient content of old coconut husk bioconversion using white
oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) at different incubation times. Completely randomized design
(CRD) 3 treatments with 3 replicates procedure was applied in the trial. The treatments were P1 =
bioconversion with oyster for 40 days, P2 = bioconversion with oyster for 50 days, and P3 = bioconversion
with oyster for 60 days incubation time. The variables measured were crude protein (CP), crude fiber (CF),
fat and nitrogen free extract (NFE). Statistical analysis shos that effect bioconversion old coconut husk
using oyster mushroom atdifferent incubation times is significant (P>0.05) on crude protein, crude fiber,
and crude fat, but not significant (P <0.05) on nitrogen free extract. The conclusion is that incubation period
of 50 days can increase higher nitrogen free extract content.


Keywords: coconut husk, bioconversation, Pleurotus ostreatus, nutritent

References

AOAC. 1990. Official Methods of Analytical Chemist. Edisi ke – 3. PO BOX 540. Bejamin Franklin Station Washington DC.

Badan Pusat Statistik. 2018. Statistik Pertanian Provinsi Nusa Tenggara Timur 2017. Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur, NTT.

Barde, R. E., J. A. Ayoade, S. Attah, and A. Wuanor. 2015. Invitro Rumen Fermentation Characteristics of White Rot Fungi Biodegraded Cssava (Manihot esculenta). Peels. Journal of Agricultural and Ecology Research International Vol. 4. (4): 166-174.

Chang, S. T and P. G. Miles. 1989. Edible Mushroom and Their Cultivation. CRC Press, Inc., Boca raton Florida.

Fitria, 2008. Pengolahan biomassa berlignoselulosa secara enzimatis dalam pembuatan pulp: studi kepustakaan. Jurnal Teknologi Pertanian Vol. 9 (2): 213-217.

Ghunu, S. 1998. Efek Dosis Inokulum dan Lama Biokonversi Ampas Tebu sebagai Bahan Pakan oleh Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Terhadap Kandungan Komponen Serat, Protein Kasar, dan Energi dapat dicerna Pada Domba. Bandung: Program Pasacasarjana, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Ghunu, S. dan A.R. Tarmidi. 2005. Perubahan komponen serat rumput kume (Sorghum plumosum var. Timorense) hasil biokonversi jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) akibat kadar air substrat dan dosis inoculum yang berbeda. Jurnal ilmu Ternak: 6 (2) :81-86.

Ghunu, S. 2009. Implikasi efek biokonversi rumput kume kering oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap nilai gizi dan pertumbuhan ternak kambing Kacang. Disertasi. Program Pasacasarjana, Universitas Padjadjaran, Bandung.

Ghunu, S., A. Aoetpah, T.O. Dami Dato. 2010. Efek biokonversi rumput kume (Sorghum plumosum var. Timorense) sebagai pakan ternak oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap kandungan bahan organik. Media Exacta volume 10 (2) hal:81-86.

Ginterova, A. dan A. Maxianova. 1975. The balance of nitrogen and the composition of proteins in (Pleurotus ostreatus) grown on natural substrates. Foha Microbial., 20:246-250.

Gramss, G., 1979, Some Differences in Response to Competitive Microorganism Deciding on Growing Success and Yield of Wood Destroying Edible Fungi. Mushroom Sci. Vol. 10, No. 1, Pag. 265-285.

Haryandi. 2016. Penggunaan urea pada amoniasi sabut kelapa terhadap kandungan zat-zat makanan sebagai bahan pakan ternak. Artikel ilmiah. Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Tamansiswa, Padang.

Johan, Mega. 2014. Kandungan nutrisi baglog jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) sebagai bahan pakan ternak pada masa inkubasi yang berbeda. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Hasanuddin, Makasar.

Manu, A.E., Th. Mata Hine., M.M. Kleden. 2015. Optimalisasi Pertumbuhan Sapi Bali Sapihan Di Tingkat Peternak Dengan Suplementasi Pakan Komplit Berbahan Dasar Limbah Kelapa Muda Terfermentasi. Laporan Penelitian MP3EI tahun I. Fapet-Undana.

Noferdiman, H. Syafwan, dan Sestilawarti. 2014. Dosis inokulum dan lama fermentasi jamur Pleurotus ostreatus terhadap kandungan nutrisi Azolla microphylla. Jurnal Peternakan 11 (1): 29-36.

Palungkun, R. 2004. Aneka Produk Olahan Kelapa. Penebar Swadaya, Jakarta

Sangadji, I. 2009. Mengoptimalkan Pemanfaatan Ampas Sagu Sebagai Pakan Ruminansia Melalui Biofermentasi dengan Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) dan Amoniasi. Disertasi. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Sangadji, I., A. Parakkasi, K.G. Wiryawan, B. Haryanto. 2008. Perubahan nilai nutrisi ampas sagu selam pada fase pertumbuhan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) yang berbeda. Jurnal Ilmu Ternak: 8 (1): 31-34.

Santoso, U. (1996). Efek Jerami Padi yang difermentasi oleh Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) terhadap Penggemukan Sapi Jantan Peranakan Ongole. Bandung: Universitas Padjadjaran.

Sova, Z and J. Cibuka. (1990). Breakdown of Lignocellulosa Material by Higher Fungi. Elsevier

Suciyanti, H., E. Sulistyowati, dan Y. Fenita. 2015. Evaluasi nutrisi limbah kulit durian yang difermentasi jamur tiram putih pada masa inkubasi yang berbeda. Jurnal Sains Peternakan Indonesia 10(2): 77-86.

Syafrizal, Rio Ichsan. 2007. Aktivitas Enzim Ligninolitik Fungi Pelapuk Putih Omphalina sp. Dan Pleurotus ostreatus Pada Limbah Lignoselulosa. Skripsi. Bogor : FMIPA Institut PertanianBogor.

Tandi, E. J., 2010, Pengaruh Tanin Terhadap Aktivitas Enzim Protease.Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Universitas Hasannudin. Makasar.

Tarmidi, A.R. dan R. Hidayat. 2002. Peningkatan kualitas ampas tebu melalui fermentasi dengan jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus). Jurnal Ilmu Hayati dan Fisik. 37:59-62.

Tarmidi, A.R. 2004. Pengaruh pemberian ransum yang mengandung ampas tebu hasil biokonversi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap performans domba Priangan. JITV 9(3):157-163.

Tripathi, J.P & J.S. Yadaw. 1992. Optimation of Solid Substrate Fermentation of Wheat Straw Into Animal Feed by Pleurotus ostreatus: A Pillot Effort. In: Blan R and Van Soest PJ (Ed) J. Anim. Feed Sci. Tech. 37.59-72.

Widiastuti, R., dan R. Firmansyah. 2005. Cemaran Zearalenon dan Deoksinivalenol pada Pakan Sapi dan Babi. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Balai Penelitian Veteriner. Bogor.

Winarno, F. G., S. Fardiaz dan D. Fardiaz. 1980. Pengantar Teknologi Pangan.Gramedia. Jakarta

Downloads

Published

2020-12-07

How to Cite

Bureni, I. J. ., Hilakore, M. A., & Manu, A. E. . (2020). Efek lama biokonversi oleh jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) terhadap kandungan nutrisi sabut kelapa tua. Jurnal Peternakan Lahan Kering, 2(4), 1171–1178. https://doi.org/10.57089/jplk.v2i4.448

Issue

Section

Articles