Pengaruh Penggunaan Tepung Daging Buah Lontar (Borassus Flabellifer) Dalam Ransum Terhadap Kecernaan Kalsium Dan FosforTernak Babi Peranakan Landrace Fase Grower
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v2i1.459Keywords:
babi, landrace, ransum, buah, lontarAbstract
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung daging buah lontar (Borassus flabellifer) dalam ransum terhadap kecernaan kalsium dan fospor ternak babi peranakan landrace fase grower. Materi yang digunakan adalah 12 ekor ternak babi jantan kebiri dan betina peranakan landrace umur berkisar 5-6 bulan, dengan bobot badan awal rata-rata 60,42 kg (KV 17,78%). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang dicobakan adalah R0: 100% ransum tanpa tepung daging buah lontar (kontol), R1: 95% ransum basal
+ 5% tepung daging buah lontar, R2: 90% ransum basal + 10% tepung daging buah lontar, R3: 85% ransum basal + 15% tepung daging buah lontar. Variabel yang diamati adalah konsumsi Ca, konsumsi P, kecernaan Ca dan kecernaan P. Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa penggunaan tepung daging buah lontar berpengaruh tidak nyata (P>0,05) terhadap penurunan konsumsi Ca dan P, namun sangat nyata (P<0,01) menurunkan kecernaan Ca dan P. Kesimpulan penggunaan tepung daging buah lontar sampai level 15% dalam ransum menurunkan konsumsi dan kecernaan Ca dan P pada babi peranakan landrace fase grower.
Kata kunci: babi, landrace, ransum, buah, lontar.
The study aimed at evaluating the effect of including borassus fruit meat meal (BFM) into diet on Calcium (Ca) and Phosphorous (P) digestibility of growing landrace crossbred pig. There were 8 barrows and 4 gilts 5-6 months of age with 60.42 average (CV 17.78%) initial body weight used in the feeding trial. Randomized block design 4 treatments with 3 replicates procedure was used in the trial. The 4 treatment diets were formulated as: R0: 100% basal diet without BFM (control); R1: 95% basal diet + 5% BFM, R2: 90% Basal diet + 10% BFM; and R3: 85% Basal diet + 15% BFM. Studied variables consisted of inake and digestibility of Ca and P. Statistical analysis shows that effect of including BFM up to 15% into the diet is highly significant (P<0.01) on reducing digestibility Ca and P but not significant (P>0.05) on reducing intake Ca or P of the growing landrace crossbred pig. The conclusion is that including BFM into basal diet reduces either intake of digestibility of either Ca or P of the growing landrace crossbred pig.
Key words: pig, landrace, diet, fruit, borassus.
References
Adedokun, S.A. and O. Adeola. 2013. Calcium and phosphorus digestibility: Metabolic limits. J Appl Poult Res 22 (3): 600-608. Diaskes pada tanggal 28 November 2014
Adesehinwa AOK. 2008. Energy and protein requirements of pigs and The utilization of fibrous feedstuffs in Nigeriaâ€: A review. African Journal of Biotechnology 7 (25): 4798-4806
Anderson, dan Mc Farlane (2000). Community As Partner Theory And Practice In Nursing. Philadelphia : Lippincot Williams dan Wilkins
Anggrodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia, Jakarta.
Ardana, I.D dan D. K. H. Putra. 2008. Ternak Babi Manajemen Reproduksi, Produksi dan Penyakit. Udayana University Press. Bali
Aritonang, D., 1993. Babi : Perencanaan dan pengeloaan usaha. Penebar swadaya Jakarta.
Cunha, T. J. 1977. Swine Feeding and Nutrition. Academic Press, inc : New York.
Church, DC. 1979. Digestive Physiology and Nutrition of Ruminant. Vol. 1. Digestive Physiology. 2nd Edition. Metropolitan Point. Co, Portland.
De Hoog, Peter X. 1982. Pengaruh Jenis Kelamin dan Pertambahan Tepung Biji Lontar Kedalam Ransum Basal Terhadap Pertumbuhan Ternak Babi VDL. Universitas Nusa Cendana. Kupang.
Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Armino Bandung
National Research Council 1998. Nutrient Reguirement Of Swine. 10thed: National Academy Press. Washington, D. C.
Nugroho, E. 2014. Beternak Babi. Eka Offiset. Semarang. Hal 29-36
Parakkasi, A. 1990. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa. Bandung
Pareira, D. M. Irianto. 1983. Pengaruh Penambahan Tepung Biji Lontar Dalam Ransum dan Jenis Kelamin Terhadap Ukuran-Ukuran Linear Tubuh Ternak Babi VDL. yang Sedang Bertumbuh. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang.
Piliang, W.G. 2000. Fisiologi Nutrisi.Volume I. Institut Pertanian Bogor.
Rama Rao, S. V., M.V.L.N Raju, M.R. Reddy. 2006. Interaction between dietary calcium and non—phytate phosphorus levels on growth. Bone mineralization and mineral excretion in commercial broilers. Animal Feed Science and Technology, v.131,p.133-148. Diakses pada tanggal (19 juli 2015)
Sihombing, D. T. H. 2006. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Sutardi, T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Jilid I, Departemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sinaga, S. Sihombing, D, T, H, Kartiarso, dan bintang, M, 2011. Kurkumin Dalam Ransum Babi Sebagai Pengganti Antibiotik Sintesis Untuk Perangsang Pertumbuhan, Bandung : Fakultas Peternakan Unpad, Jurnal Ilmu-Ilmu Hayati dan Fisik No, 2 Vol, 13, 125-132.
Sinaga, S dan Martini, S. 2010. Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Curcuminoid Pada Babi Terhadap Pertumbuhan dan Konversi Ransum. Bandung : Fakultas Peternakan Unpad. Jurnal ilmu ternak NO. 10 Vol. 1, 45-51
Tambunan, P. 2010. Potensi dan Kebijakan Pengembangan Lontar Untuk Menambah Pendapatan Penduduk. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman. Bogor, Jawa Barat. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutan. Vol. 7 No. 1, April 2010 : 27-45
Tantalo, S. 2009. Perbandingan performans dua strain ayam broiler yang mengkonsumsi air kunyit. Jurnal Imiah Ilmu-Ilmu Peternakan. Vol XII (3): 146-152
Tillman, AD., H. Hartadi, S. Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo dan S. Lebdosoekodjo, 1991. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta










