Pengaruh Waktu Penyuntikan Hormon PGF2α Setelah Berahi Alam Terhadap Respons Estrus dan Angka Kebuntingan pada Sapi Bali
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v2i3.514Keywords:
PGF2α, estrous cycle, pregnancy rateAbstract
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh waktu penyuntikan hormon PGF2α setelah berahi alam terhadap respons estrus dan angka kebuntingan pada sapi bali.Penelitian ini menggunakan15 ekorternak sapi bali betina yang tidak bunting dan sehat dengan skor kondisi tubuh berkisar 3-4 (sedang dan gemuk). Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL), di bagi dalam 3 perlakuan dan 5 ulangan. Data yang diperoleh ditabulasi dan dihitung menggunakan deskriptif dengan menampilkan total, persentase, rata-rata. Hasil pengamatan persentase estrus setelah penyuntikan PGF2α menunjukan bahwa pada perlakuan 1 dan perlakuan 2 semuanya merespon terhadap penyuntikan PGF2α atau 100% mengalami estrus, sedangkan pada perlakuan 3, hanya 4 ekor ternak dari total 5 ekor yang merespon atau hanya 80% yang menunjukan gejala. Kecepatan timbulnya estrus dari hasil penelitian terdapat satu ekor ternak yang berespon sangat cepat yakni 65 jam pada perlakuan 2 dan ternak yang berespon sangat lambat yakni 77 jam. Intensitas esterus dari sapi bali betina yang diamati dalam penelitian sangat berbeda antara perlakuan. Pada perlakuan 1 dan 3 kategori intensitas estrus termasuk yang ke-2 (++), sedangkan pada perlakuan 2 kategori intensitas estrus termasuk yang ke-3 (+++). Angka kebuntingan pada perlakuan 1 terdapat 2 induk sapi yang bunting dari 5 ekor yang diinseminasi atau sebesar (40%). Pada perlakuan 2 terdapat 4 ekor induk yang bunting dari 5 induk yang diinseminasi atau sebesar (80%). Sedangkan, pada perlakuan 3 terdapat 3 ekor induk yang bunting dari 5 induk yang diinseminasi atau sebesar (60%).
Kata kunci: PGF2α, siklus estrus, angka kebuntigan,
The purpose of this study is to study effect of PGF2α hormone injection time after common on the estrus response and pregnancy rate of Bali cow. There were 15 non pregnant, health with 3-4 score condition bali cows used in the study. Completely ransomized design 3 treatments with 5 replicates procedure applied in the study. The data obtained were tabulated and calculated using descriptive by displaying the total, percentage, average. The results found that 100 cows estrus (response positivily) to treatment 1 and 2 and 80% cows estrus by treatment 3 and 4. There fastest resposnse is 65 hours shown by 1 cow at treatment 2 and the lowest response is 77 hours. Estrus intensity among treatment are different. In treatment 1 and 3 the category of estrus intensity is the 2nd (++), and in treatment 2 is in the 3rd (+++). There 2 pregnant cows of 5 inseminated cows (40%); 2 of 4 insemenitaed cows (80%) in treatment 2, and 3 pregnant of 5 inseminted cows (60%) in treatment 3.
Keywords: PGF2α, estrous cycle, pregnancy rate
References
Belli, H.L.L. 1992. Pengaruh Berbagai Dosis dan Cara Pemberian Prostaglandin F2α Terhadap Performens Reproduksi Sapi Bali. Buletin Penelitian Undana.
Berardinelli, J.G., and Adair, R. 1990. Effect of prostaglandin F2α dosage and stage of estrous cycle on the estrous respons and corpus luteum function in beef heifers. Anin. Breed. Abstr. 58(1): 27.
Daranguru, L. 1991. Penentuan Dosis Efektif PGF2α Secara dalam sinkronisasi estrus pada ternak sapi bali di Besipae. Skripsi, Fapet-Undana
Fatthah, S. 1998. Produktifitas Sapi Bali Yang Dipelihara Di Padang Penggembalaan Alam (Kasus Oesu’u, NTT). Disertasi. UNPAD. Bandung.
Guntoro, S. 2012. Meramu Pakan Ternak dari Limbah Perkebunan. Jakarta: AgroMedia Pustaka
Kune P, HLL Belli, dan WM Nalley, 2018. Respons Estrus Hasil Sinkronisasi dengan Prostaglandin F2alfa (PGF2α) dan Angka Kebuntingan serta Pola Estrus Alamiah Sapi Induk Bali. Prosiding Seminar Nasional Penelitian Berkelanjutan Berbasis Lahan Kering 4. Undana press. Kupang, 5 november 2018.
Kune P, R Widyastuti dan T Saili. 2019. Tampilan Kesuburan Sapi Bali Induk yang Dikawinkan Langsung dengan Pejantan dan Inseminasi Buatan Ketika Estrus Hasil Sinkronisasi Menggunakan PGF2α. Jurnal Ilmu dan Teknologi Peternakan Tropis. Vol 6 (2), 275-280.
Kune, P. dan Najamudin. 2002. Respon Estrus Sapi Potong Akibat Pemberian Progesterone, Prostaglandin F2α dan Estradiol Benzoat Dalam Kegiatan Sinkronisasi Estrus. Jurnal Agroland. 9(4):380-384.
Ledoh, B.J. 2005. Analisis Pengembangan Sapi Potong dengan Pola Gaduhan (Kopel) Pembibitan di Kabupaten Kupang, NTT. Tesis Progream Pasca Serjana, Undana.
Maffeo, G. R. Balabio., V. Oligiati and F. Guidibono. 1983. Induction of oestrus in cowsby a new analogue of PGF2α ( Alfaprostal) Prostaglandin. J. Animmals Sci 25: 541-247.
Maidaswar. 2007. Efisiensi Superovulasi pada Sapi Melalui Sinkronisasi Gelombang Folikel dan Ovulasi. Tesis. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor Maliawan, I.M. 2002.
Pengaruh Pemberian Hormon Prostaglandin F2α (PGF2α) Terhadap Lama Birahi dan Angka Kebuntingan pada Sapi Bali. Skripsi. Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Lampung
Mukasa, E. Mugerwa, A. Tegegne, M. Mattoni, dan Cechini. 1989. Effect of Ocstrous Synchronization with Prostaglandin F2 Alpha in Ethiopian Highland Zebu (Bas indiclIs) Cows. Anim. Prod. Sci 48 : 367-373.
Partodihatrdjo, S. 1980. Ilmu Reproduksi Hewan. Cetakan-1. Mutiara Sumber Widya: Jakarta.
Putro, P.P. 2008. Teknik Sinkronisasi Estrus pada Sapi. Bagian Reproduksi dan Obstreti. Universitas Gajah Mada.
Ramli Mauridatun dkk.,2016. Hubungan AntaraIntensitas Estrus Dengan Konsentrasi estradiol Pada Sapi Aceh Pada Saat Inseminasi. Universitas Syiah Kuala Banda Aceh. Vol 10 No 1.
Salisbury, H.M. dan L. Vandemark. 1985. Reproduksi pada Ternak. Terjemahan. Gajah Mada University Press.
Sariubang, M. Tambing, S. N. 2006. Analisis Pola Usaha Pembibitan Sapi Bali Yang Dipelihara Secara Ekstensif dan Semi Intensif. Seminar Nasional Peternak dan Veteriner 2006
Sudjana, (1996). Metode Statistika. Bandung : Penerbit Tarsito Bandung
Toelihere 2002. Increasing the success rate and adoption of artificial insemination for genetic improvement of Bali cattle. Workshop on strategies to improvebali Cattle in Eastern Indonesia. Udayana eco lodge Denpasar Bali 4–7 February 2002.
Toelihere, M. R. 1981. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa. Bandung.
Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Penerbit Angkasa: Bandung.
Yoshida, C. dan Nakao, T. 2005. Response of Plasma Cortisol and Progesterone after ACTH Challenge in Ovariectomized Lactating Dairy Cows. Journal of Reproduction and Development, Vol.51, No. 1.
Yusuf. T. L. 1990. Pengaruh Prostaglandin F2 alfa Gonadotrophin Terhadap Aktivitas Estrus dan Super Ovulasi dalam Rangkaian Kegiatan Transfer Embrio pada Sapi FH, Bali dan PO. Disertasi. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor. Bogor.










