Meningkatkan Pemahaman Konsep Sejarah Lokal Melalui Metode Cerita Rakyat Pada Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Wajib Di Kelas X IPS SMA Negeri 5 Kota Kupang
Keywords:
Pendidikan, Pembelajaran, Metode, Ceritera, PrestasiAbstract
Berdasarkan informasi dari guru sejarah kelas XI IPS-1SMAN 5 Kota Kupang bahwa minat, motivasi dan kemampuan peserta didik dalam memahami konsep sejarah lokal masih rendah. Buktinya sebesar 70% peserta didik belum mencapai kriteria ketuntasan minimum (KKM). Juga, banyak konsep sejarah utamanya pemahaman konsep sejarah lokal yang masih sulit dipahami peserta didik. Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas isi, efisiensi, efektivitas pembelajaran, proses dan hasil pembelajaran peserta didik kelas XI IPS-1SMAN 5 Kota Kupang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas yang dirancang dalam siklus, dengan langkah-langkah pelaksanaannya terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, observasi-evaluasi dan refleksi.Lokasi penelitian di SMA-N5 Kota Kupang. Yang menjadoi subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI IPS-1. Teknik pengumpulan data berupa test dan observasi. Teknik analisis data dengan menggunakan perhitungan rata-rata persentase untuk data kuantitatif sedangkan kategorial untuk data kualitatif.Hasil penelitian perbaikan pembelajaran pemahaman konsep sejarah lokal dengan menggunakan metode ceritera menunjukan bahwa metode berceriteramerupakan salah satu cara yang digunakan guru untuk membagi pengalaman belajar siswa dan memahami konsep sejarah lokal Nusa Tenggara Timur. Melalui metodeberceritera berbasis ceritera rakyat Nusa Tenggara Timur mengandung pesan-pesan moral, nasehat yang sarat makna, dan informasi dunia nyata yang bisa ditangkap oleh peserta didik, sehingga peserta didik dengan mudah memahami ceritera lokal sebagai dasar pemahaman konsep sejarah lokal. Metode berceritera juga mampu meneladani hal yang baik dan benar yang terkandung dalam isi ceritera yang disampaikan guru. Dalam metode pembelajaran berceritera peserta didik dibimbing mengembangkan kemampuan mendengarkan dan memahami isi ceritera sejarah lokal. Melalui metode pembelajaran berceritera peserta didik mampu mengembangkan kemampuan menyimak bahasa, mengulang bahasa yang didengarnya dengan bahasa sederhana, sehingga dengan metode berceritera berdampak pada kemampuan berkomunikasi peserta didik baik di kelas maupun di luar kelas dengan baik dan benar.
References
Ande Andreas. Dkk, 2019. Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Melalui Penggunaan Model Pembelajaran Discovery Learning Pada Mata Pelajaran Sejarah Indonesia Wajib di Kelas XI SMAN 3 Kupang. LP2M Undana Kupang.
Conny Semiawan, dkk, 1988. Pendekatan Ketrampilan Proses Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam Belajar. Jakarta. PT. Gramedia.
Drijarkara, 1980, Drijarkara Tentang Pendidikan,Kumpulan Karangan Drijarkara, Yayasan Kanisius Yogyakarta
Kartodirjho, S. 1993. Pendekatan Ilmu-ilmu Sosial Dalam Penelitian Sejarah. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Umum
Mulyasa. E. 2004 Kurikulum berbasis Kompetensi, Konsep Karakteristik, dan Implementasi.Bandung Remaja rosdakarya.
Moleong, L.J. 2002.Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Rosada Karya
Nasution.S. 2003.Azas-azas Kurikulum. Jakarta. Bumi Aksara
Raka Joni T., 1979, Cara Belajar Siswa Aktif Implikasi Sistem Penyampaian, Jakarta, Proyek pengembangan Pendidikan Guru, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Sardiman A.M. 2007. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sudjana, Nana. 2004. Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar Baru Algesindo.
----------------. 1996. Cara Belajar Siswa Aktif “ Dalam Proses Belajar Mengajarâ€. Bandung: Sinar Baru Algensindo
Ulih Bukit Karo-karo. Ign.S., 1975. Metodologi Pengantar, Suatu Pengantar, Salatiga. CV Saudara.
Winkel, 1996, Prestasi Belajar Pendidikan.Jakarta:Gramedia





