Pendidikan Multikultural Bagi Generasi Emas dalam Kerangka Diagnosis Arendt
Keywords:
Pendidikan, Multikultural, Pluralitas,, Politik, DiagnosisAbstract
Karya ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendidikan multikultural genersi emas dalam kerangka diagnosis Arendt. Metode penulisan deskriptif dianggap cocok digunakan dalam penulisan ini. Sumber data diperoleh melalui studi pustaka untuk mendalami konsep teori tindakan Hannah Arendt. Data studi pustaka dianalisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Tesis ini menampilkan beberapa pokok pikiran yang digumuli dalam tulisan ini. Pertama: multikuralitas merupakan prasyarat tindakan manusia. Tindakan manusia sendiri mengimplikasikan adanya kebebasan. Itu berarti, prasyarat bagi kebebasan manusia ialah multikuralitas itu sendiri. Maka, kebebasan hanya dapat eksis dalam suatu heterogenitas. Tetapi perlu ditambahkan, kalau pluralitas memprasyaratkan seluruh tindakan manusia, sementara tindakan tersebut mengimplikasikan adanya kebebasan, maka pluralitas dan kebebasan itu satu dan sama, dan menjadi faham yang tidak terpisahkan. Kedua; manusia adalah makluk yang mampu bertindak politis. Akan tetapi, segi politik tindakan itu bukan fakta kodrati yang terberi. Ciri politis itu potensial dan baru menjadi aktual dalam sebuah komunitas konkret tertentu bersama dengan orang lain yang mempunyai kebebasan yang setara. Maka pluralitas dan kebebasan tampil sebagai condition of possibility (kondisi kemungkinan) yang memprasyaratkan aktualisasi manusia sebagai manusia politis. Ketiga; karena kebebasan adalah alasan adanya politik, maka kebebasan dalam pluralitas dan kebersamaan tidak pernah berciri individual melainkan berwatak politis. Itu berarti, yang utama bukan kebebasan individusl melainkan kebebasan politik. Keempat, totalitarisme mereduksi pluralitas ke dalam homogenitas tertentu. Kalau totalitarisme mereduksi pluralitas, sementara pluralitas menjadi syarat kebebasan, maka totalitarisme jelas mereduksi kebebasan dan mengubahnya menjadi ketidakbebasan. Dengan demikian, baik kondisi totalitarisme maupun ketidak bebasan mengubah condition of possibility. Itu berarti, totalitarisme dan ketidakbebasan itu antipolitik.
References
Ande, Andreas. 2013-2015. Ethnisitas Dalam Bingkai Kekerasan di Daerah Perbatasan Kabupaten/Kota di Pulau Timor, Lemlit Undana.
Bhiku Parekh. 2008. Rethingking Multiculturalism, (Terj. Bambang Kukuh Adi), Yogyakarta: Kanisius.
Clifford Geertz, 1973 The Interpretation of culture: selected Essays, Basic Books, New York
Hariyadi Mathias, 1994. Membina Hubungan Antarpribadi Berdasarkan Prinsip Partisipasi, Persekutuan dan Cinta Menurut Gabriel Marcel, Kanisius, Yogyakarta.
Huijbers Theo.1987. Manusia Merenungkan Dirinya, Kanisius, Yogyakarta.
Marshall McLuhan. 1962. The Gutenberg Galaxy dengan teorinya Global Village.
Otto Gusti Nd Madung. 2013. Politik Diferensiasi Versus Politik Martabat Manusia. Ledalero-Maumere.
Soedjatmoko. 1986. Dimensi ManusiaDalam Pembangunan.Jakarta:LP3ES





