Pengaruh Campuran Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) dan Tepung Daun Katuk (Sauropus androgynus L. Merr) terhadap Konsumsi, Kecernaan Serat Kasar dan Lemak Kasar Babi Starter
Effect of a Mixture Moringa Leaf Flour (Moringan oleifera) and Katuk Leaf Flour (Sauropus androgynus L. Merr) on Consumption, Digestibility of Crude Fiber and Crude Fat on Starter Pigs
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v5i1.1309Keywords:
Sauropus leaves, moringa leaves, crude fat, crude fiber, pigsAbstract
This study aims to determine the effect of using a mixture of (Moringa oleifera) and (Sauropus androgynous L. Merr) leaves in the form of flour in the ration on consumption, digestibility of crude fiber and crude fat of starter pigs. The study used 12 landrace phase starter breeds of pigs with body weight  (BW) ranging from 5-15.6kg and an average weight of 8.76kg (CV 11.57%). The design used was a Randomized Completely Design (RCD) with 4 treatments and 3 replications. The treatments in question were G0: basal ration without a mixture of moringa leaf flour and Sauropus leaf flour; G1: 95% basal ration + 4% moringa leaf meal and 1% Sauropus leaf meal, G2: 90% basal ration + 8% moringa leaf meal and 2% Sauropus leaf meal, G3: 85% basal ration + 12% moringa leaf meal and 3% Sauropus leaf flour. The parameters measured were crude fiber consumption, crude fiber digestibility, crude fat consumption and crude fat digestibility. The result of statistical analysis showed that the use of a mixture of Moringa leaves (Moringa oleifera) and (Sauropus androgynus L. Merr) leaves  in the form of flour on the source farm had  no significant effect (P>0.05) on crude fiber consumption, crude starch digestibility, crude fat consumption and crude fat digestibility in starter pigs. The conclusion of this study, mixing moringa leaves and in Sauropus leaves in the form of flour at a level of 0-15% gave the same relative value to the consumption, digestibility of crude fiber and crude fat in starter phase pigs.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan campuran daun kelor (Moringa oleifera)Â dan daun katuk (Sauropus androgynous L. Merr) dalam bentuk tepung pada ransum terhadap konsumsi, kecernaanserat kasardan lemak kasar ternak babi starter. Penelitian menggunakan 12 ekor ternak babi peranakan landrace fase starter dengan berat badan (BB) 5-15,6kg dan rata-rata BB 8,76kg (KV 11,57%).Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Perlakuan yang dimaksud adalah G0:ransum basal tanpa campuran tepung daun kelor dan tepung daun katuk; G1: 95% ransum basal + 4% tepung daun kelor dan 1% tepung daun katuk,G2: 90% ransum basal + 8% tepung daun kelor dan 2% tepung daun katuk,G3:85% ransum basal + 12% tepung daun kelor dan 3% tepung daun katuk. Parameter yang diukur sebagai berikut konsumsi serat kasar, kecernaan serat kasar, konsumsi lemak kasar dan kecernaan lemak kasar. Hasil analisis statistik menunjukan bahwa penggunaan campuran daun kelor (Moringa oleifera) dan daun katuk (Sauropus androgynus L.Merr) dalam bentuk tepung pada ransum berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap konsumsi serat kasar, kecernaan serat kasar, konsumsi lemak kasar dan kecernaan lemak kasar pada ternak babi fase starter. Kesimpulan penelitian ini, pencampuran daun kelor dan daun katuk dalam bentuk tepung pada level 0-15% memberikan nilai relatif sama terhadap konsumsi, kecernaan serat kasar dan lemak kasar pada ternak babi fase starter
Â
References
Agustal, A., M. Harapini, and Chairul. 1997. “Analisis Kandungan Kimia Ekstrak Daun Katuk (Sauropus Androgynus L. Merr) Dengan GCMS.†Warta Tumbuhan Obat Indonesia1 3 (3): 31–33.
Anggorodi, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum. Jakarta: PT. Gramedia.
Astuti, A, Ali Agus, and SPS Budhi. 2009. “The Effect Of High Quality Feed Supplement Addition On The Nutrient Consumption And Digestibility Of Early Lactating Dairy Cow.†Buletin Peternakan 33 (2): 81–87.
Badan Standarisasi Nasional Indonesia [BSNI]. 2006. Pakan Anak Babi Sapihan (Pig Starter) SNI 01-3912-2006. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional Indonesia.
Blakely, J., and D. H. Bade. 1992. Pengantar Ilmu Peternakan. Edited by B. Srigandono. 2nded. Yogyakarta.: Gadjah Mada University Press.
Gaspersz, V. 1991. Metode Perancangan Percobaan. Bandung: C.V. Armico.
Ichwan, W. 2003. Membuat Pakan Ayam Ras Pedaging. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Jonni, M. S., M. Sitorus, and N. Katharina. 2008. Cegah Malnutrisi Dengan Kelor. Yogyakarta: Kanisius.
Lopez, G. G. Ros, F. Rincon, M. J. Periago, M. C. Martinez, and J. Ortuno. 1996. “Relationship between Physical and Hydration Properties of Soluble and Insoluble Fiber of Artichoke.†Journal of Agricultural and Food Chemistry 44 (9): 2773–78.
Ly, J. 2016. “Evaluasi Nilai Nutrisi Biji Asam Terfermentasi Saccharomyces Cerevisiae Sebagai Suplemen Pakan Induk Dan Implikasinya Terhadap Kinerja Induk Dan Anak Babi Pra-Sapih.†Universitas Brawijaya.
Nasution, R. A. P., U. Atmomarsono, and W. Sarengat. 2014. “Pengaruh Penggunaan Tepung Daun Katuk (Sauropus Androgynus) Dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Broiler.†Animal Agriculture Journal 3 (2): 334–40.
National Research Council. 1979. Nutrient Requirement of Swine. 2nded. Whasington, D. C.: National Academy of Sciences.
Nugroho, E. 2014. Beternak Babi. Semarang: Eka Offiset.
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi Dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Pramudia, A., I. Mangisah, and B. Sukamto. 2013. “Kecernaan Lemak Kasar Dan Energi Metabolis Pada Itik Magelang Jantan Yang Diberi Ransum Dengan Level Protein Dan Probiotik Berbeda.†Animal Agriculture Journal 2 (4): 148–60.
Saragih, Desni T. R. 2016. “Peranan Daun Katuk Dalam Ransum Terhadap Produksi Dan Kualitas Telur Ayam Petelur.†Jurnal Ilmu Dan Teknologi Peternakan 5 (1): 11–16.
Sibbald, I. R. 2013. “Estimation of Bioavailable Amino Acids in Feedingstuffs for Poultry and Pigs: A Review with Emphasis on Balance Experiments.†Canadian Journal of Animal Science 67 (2): 221–300.
Sihombing, D.T.H. 2006. Ilmu Ternak Babi. II. Yogyakarta.: Gadjah Mada University Press.
Sinaga, Sauland, and Sri Martini. 2010. “Pengaruh Pemberian Berbagai Dosis Curcuminoid Pada Ransum Babi Periode Starter Terhadap Efisiensi Ransum.†Jurnal Ilmu Ternak 10 (2): 95–101. http://jurnal.unpad.ac.id/jurnalilmuternak/article/view/431/529.
Siregar, Z. 2009. “Suplementasi Block Multinutrisi Berbasis Hijauan Lapangan Terhadap Kecernaan in Vivo Pada Domba Jantan.†Universitas Sumatera Utara, Medan.
Siswandono, and B. Soekardjo. 1995. Kimia Medisinal. Surabaya: Airlangga University Press.
Syukron, Muhammad Ulqiya, I Made Damriyasa, and Nyoman Adi Suratma. 2014. “Potensi Serbuk Daun Kelor (Moringa Oleifera) Sebagai Anthelmintik Terhadap Infeksi Ascaris Suum Dan Feed Supplement Pada Babi.†Jurnal Ilmu Dan Kesehatan Hewan 2 (2): 89–96.
Tillman, Allen D., Hari Hartadi, Soedomo Reksohadiprodjo, Soeharto Prawirokusumo, and Soekanto Labdosoekojo. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Wea, R. 2004. “Potensi Pengembangan Ternak Babi Di Nusa Tenggara Timur.†Jurnal Partner Bulletin Pertanian Terapan, 28–38.
Whittemore, C. 1993. The Science and Practice O Pig Production. Longman Group UK Limited.










