Pengaruh Substitusi Jagung Giling Dengan Tepung Kulit Pisang Terfermentasi dalam Ransum Konsentrat terhadap Kadar Vfa, NH3 dan pH Secara In Vitro
Effect Of Substitution Of Milled Corn With Fermented Banana Peel Flour in Concentrate Ration on Vfa,NH3 And pH Levels In Vitro
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v5i2.1456Keywords:
concentrate, fermented banana peel, NH3, pH, VFAAbstract
This study aims to determine the effect of substitution of milled corn with fermented banana peel concentrate ration on the levels of VFA, NH3 and pH. The method used is an experimental method using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 periods as replicates. The treatments in this study were R0: concentrate without banana peel flour as a control; R1: concentrate with 10% fermented banana peel flour; R2: concentrate with 20% fermented banana peel flour; R3: concentrate with 30% fermented banana peel flour. The results showed that the average level of VFA (mM) R0 = 142.80; R1 = 147.37; R2 = 168.99; R3 = 170,36. the average level of NH3 (mM) R0 = 18.33; R1 = 23.46; R2 = 24.54 and R3 = 18.70 while the average pH is R0 = 6.6; R1= 6.70; R2 = 6.77 and R3 = 6.80. The results of statistical analysis showed that the treatment had a very significant effect (P<0.01) on VFA, NH3 and pH had no significant effect (P>0.05). It can be concluded that the use of banana peel flour fermented by Saccharomyces cerevisiae can replace milled corn up to 100% of the 30% milled corn proportion as an energy source in the concentrate ration mixture giving the highest VFA concentration and NH3 levels and the same pH.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi jagung giling dengan kulit pisang terfermentasi ransum konsentrat terhadap kadar VFA, NH3 dan pH. Metode yang digunakan adalah metode percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 periode sebagai ulangan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah R0: konsentrat tanpa tepung kulit pisang sebagai control; R1: konsentrat dengan tepung kulit pisang fermentasi 10%; R2: konsentrat dengan tepung kulit pisang fermentasi 20%; R3: konsentrat dengan tepung kulit pisang fermentasi 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan kadar VFA (mM) R0 = 142,80; R1 = 147.37; R2 = 168,99; R3 = 170,36. rataan kadar NH3 (mM) R0 = 18.33; R1 = 23,46; R2 = 24,54 dan R3 = 18,70 sedangkan rataan pH R0= 6,6; R1= 6,70; R2= 6,77 dan R3 = 6,80. Hasil analisis stastik menunjukkan perlakuan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap VFA, NH3 dan pH berpengaruh tidak nyata (P>0,05 ). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung kulit buah pisang hasil fermentasi saccharomyces cerevisiae dapat menggantikan jagung giling sampai 100 % dari proporsi jagung giling 30% sebagai sumber energi dalam campuran ransum konsentrat memberikan konsentrasi VFA tertinggi dan kadar NH3 serta pH yang sama.
References
Association of Official Analytical Chemists. (1990). Official Methods of Analysis Food Compotition; Additives; Natural Contaminants. Vol 2. 15th edition. Virginia. USA.
Bata M dan hidayat N. 2010. penambahan Molases Untuk Meningkatkan Kualitas Amoniasi Jerami Padi dan Pengaruhnya tterhadap Produk Fermentasi Rumen Secara in-Vitro. Agripet, 10 (2); 27-33.
Bondi AA. 1987. Animal Nutrition. First publishing. John Wiley and Sons,Chichester. General Laboratory Procedures, 1966. Department of Dairy Science. University of Wisconsin. Madison.
Guntoro S. 2008. Pengaruh penggunaan limbah kopi terfermentasi terhadap produktifitas susu kambing. Prosiding Seminar Nasional Permasyarakatan Inovasi Teknologi Revitalisasi Pertanian dan Pedesaan di Lahan Marginal. PSE, Bogor, p. 562-565.
Hartati E. 1998. Suplementasi Minyak Lemuru dan Seng ke Dalam Ransum yang mengandung Silase Pod Coklat dan Urea untuk Memacu Pertumbuhan Sapi Holstein Jantan. Disertasi, Program Pascasarjana IPB. Bogor.
Koni TNI Therik J Rihi Kale. 2013. Pemanfaatan Kulit Pisang Hasil Fermentasi Rhyzopus oligosporus dalam Ransum terhadap Pertumbuhan Ayam Pedaging. Jurnal Veteriner 14 (3): 365- 370.
Manek GEU. 2020. Pengaruh Level Khamir Saccharomyces Cerevisiae Dalam Proses Fermentasi Tepung Kulit Pisang Terhadap Kandungan Nutrisi. Skripsi. Fakultas Peternakan-Universitas Nusa Cendana.
Marten GC and Barnes RF. 1979. Prediction of Energy Digestibility of Forage With in vitro Rumen Fermentation and Fungal Enzyme Systems. In: Standardization of Analitical Methodology for Feeds. Proc. of A Workshop Held in Ottawa, Canada. p. 61-78.
McDonald P Edwards R Greenhalgh J and Morgan C. 2002. Animal Nutrition. 6th Ed. New York: Longman Scientific & Technical
Rachman A. (1989). Teknologi Fermentasi. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Saha BC. 2004. Lignocellulose Biodegradation and Applications in Biotechnology. In: Lignocellulose Biodegradation. Saha BC, Hayashi K (Ed.). American Chemical Society, Washington DC. p2-34
Sutardi T. 1979. Ketahanan Protein bahan Makanan terhadap Degradasi oleh Mikroba Rumen dan Manfaatnya bagi Peningkatan Produktifitas Ternak. Pros. Seminar Penelitian dan Penunjang Peternakan. LPP Bogor
Sutardi T. 1980. Landasan Ilmu Nutrisi. Dapartemen Ilmu Makanan Ternak. Fakultas Peternakan IPB. Bogor.
Syahrir. 2009. Potensi daun murbei dalam meningkatkan nilai guna jerami padi sebagai pakan sapi potong. Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Tartrakoon T Chalermsan N Vearasilp T and Meulen UT.1999. The nutritive value banana peel (musa sapieutum) in growing pigs. J. of Animal Agriculture. 18(2): 153-157.
Theodorou MK Gascoyne DJ Akin DE and Huntley RD. 1987. Effect of phenolic acids and phenolics from plant cell walls on rumen like fermentation in consecutive batch culture. Appl. Environ. Microbiol., 53:1046-1050.
Tillman AD Hartadi H Reksohadiprodjo S Prawirokusumo S dan Lebdosoekojo S. 1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Cetakan keempat. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.










