Pengaruh Penggunaan Tepung Biji Asam Terfermentasi Dalam Ransum Terhadap Kecernaan Serat Kasar Dan Lemak Kasar Pada Babi Fase Starter-Grower
Effect Inclusion of Fermented Tamarind Seed Meal in the diet on Digestibility of Crude Fiber and fat in Starter – Grower Pig
DOI:
https://doi.org/10.57089/jplk.v3i4.846Keywords:
babi, tepung biji asam, fermentasi, kecernaan ,serat kasar, lemak kasar.Abstract
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan tepung biji asam terfermentasi
dalam ransum terhadap kecernaan serat kasar dan lemak kasar ternak babi starter-grower. Materi
yang digunakan dalam penelitan ini adalah 12 ekor ternak babi fase starter-grower dengan umur 1,5
bulan, variasi berat badan 5-14kg, rata-rata 8,63kg (koefisien variasi 38,22%). Rancangan yang
digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 3 ulangan.
Perlakuan yang dicobakan terdiri dari R0: 100% ransum tanpa tepung biji asam terfermentasi
(kontrol), R1: ransum mengandung 15% tepung biji asam terfermentasi, R2: ransum mengandung
20% tepung biji asam terfermentasi, R3 ransum mengandung 25% tepung biji asam
terfermentasi.Variabel yang diteliti adalah konsumsi dan kecernaan serat kasar dan lemak kasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan tepung biji asam terfermentasi dalam ransum
berpengaruh tidak nyata (P>0,05) pada konsumsi dan kecernaan serat kasar dan konsumsi lemak
kasar tetapi sangat nyata meningkatkan kecernaan lemak kasar (P<0,01) ternak babi. Disimpulkan
bahwa penggunaan tepung biji asam terfermentasi 25% dalam ransum meningkatkan kecernaan
lemak kasar, tetapi relatif sama pada konsumsi serat kasar, kecernaan serat kasar dan konsumsi
lemak kasar ternak babi fase starter-grower. Tepung biji asam terfermentasi dapat digunakan 25%
dalam ransum babi fase starter-grower.
Kata kunci : babi, tepung biji asam, fermentasi, kecernaan ,serat kasar, lemak kasar.
ABSTRACT
The purpose of the study was evaluating effect of including of fermented tamarind seed meal in the
diet on digestibility of crude fiber and fat in starter - grower pig. There were pigs 1.5 months body
weight with 5-14kg (average 8,63kg) (CV38,22%). Randomized block desigen 4 treatments with 3
replicates procedure was applied in the trial. The treatments diets offered were:R0:100% diet without
fermented tamarind seeds R1:diet containing 15% fermented tamarind seeds R2:diet containing 20%
fermented tamarind seeds R3:diet containing 25% fermented tamarind seeds.Variables evaluated in
the study were: intake and digestibility of crude fiber and crude fat. Statistical analysis shows that
effect of including of fermented tamarind seed meal is not significant (P>0.05) on either intake or
digestibility either crude fiber or fat, but siginificant (P<0.01) crude fat intake in the pig. The
conclusion is that inclduing of fermented tamarind seed leaves meal 25% meal diet increases crude
fiber intake and performs the similar results in both fat intake and digestibility of both crude fiber
and fat in starter-grower pig.
Key words : pig, tamarind seed, fermented ,digestibility, crude fiber and crude fat
References
Aritonang, D.1993. Perencanaan dan Pengelolaan Usaha. Penebar Swadaya. Jakarta.
BPS NTT. 2016.Badan Pusat Statistik.Nusa Tenggara Timur Dalam Angka.
Herlina, B. Novita, R. Dan Karyono, T. 2015. Pengaruh jenis dan waktu Pemberian Ransum terhadap performans Pertumbuhan dan produksi Ayam Broiler. Fakultas Peternakan, Prodi Peternakan, Universitas Musi Rawas. Jurnal Sain Peternakan indonesia. Vol. 10,No 2.
Jaya Kipgas, Mahardika IG, Suasta IM. 2015. Pengaruh penggantian ransum komersial dengan ampas tahu terhadap penampilan babi ras. Peternakan Tropika. 3 (3): 482-491.
Lopez, G. G. F Ros,. M Rincon,. J. Periago, M. C. Martinez, dan J. Ortuno. 1996. Relationshipbetween physical and hydration properties ofsuluble and insoluble fiber of artichoke. J. Agric. Food Chem. 44:2773-2778.
Ly, J. 2016. Evaluasi Nilai Nutrisi Biji Asam Terfermentasi Saccharomyces cerevisiae Sebagai Suplemen Pakan Indukdan Implikasinya Terhadap Kinerja Induk Dan Anak Babi Pra-Sapih. Disertasi. Program Doktor Ilmu Ternak. Program Pasca Sarjana, Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang 2016.
Mateos, G.G., F. Martin, M.A. Latorre, B. Vicente, R. Lazaro. 2006. Inclusion of oat hulls in diets for young pigs based on cooked maize or cooked rice. J Anim Sci. 82:57–63.
NRC (National Research Countil). 1988. Nutrien Requirement Of Swine.10th ed : National Academy Press. Washington, D.C
NRC, National Research Council. 2012. Nutrient Requirements of Swine. Ed ke- 10. Rev. Washington DC. (USA): United State Deptartement of Agriculture.
Prawitasari, R. H., V. D. Y. B. Ismadi dan I. Estiningdriati. 2012. Kecernaan Protein Kasar dan Serat Kasar Serta Laju Digesti Pada Ayam Arab Yang diberi Ransum Dengan Berbagai Level Azolla microphylla. Animal Agriculture Journal, 1 (1) : 471-483.
Pugalenthi M, Vadivel V, Gurumoorthi P,Janardhanan K. 2004. Comperativenu Trtitional evaluation of little known legumes, Tamarindus indica, Erythrina indica and Sesbania bispinosa. Tropical and Sub tropical Agroeco systems 4(3):107-123.
Sari ML, 2004. Konsumsi dan konversi ayam pedaging bibit periode pertumbuhan dengan perlakuan pembatasan ransum pada lantai kawat dan litter. J. Indon. Trop Anim Agric. Vol. 29 No (2): 87.
Teru VY. 2003. Pengaruh substitusi jagung dengan tepung biji asam tanpa kulit terhadap bobot hidup, bobot karkas dan presentase karkas broiler fase finisher. Skripsi / Tesi. Fakultas Peternakan Undana.
Tillman, A. H., Hartadi, S., Reksohadiprodjo, S. Prawirokusumo, S. Lebdosoekodjo, 1986. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Yogyakarta: Gadjah Mada Univesity Press.
Umiyasih, U. dan Y.N. Aggraeni., 2008. Pengaruh fermentasi Saccharomyces cerevisiae terhadap kandungan nutrisi dan kecernaan ampas pati aren (Arenga pinnata Merr). Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008. Loka Penelitian Sapi Potong, Jl. Pahlawan No. 2. Grati, Pasuruan 61084. Hal. 241-247. Unduhan Mei 2015.
Wulandari, K. Y., V. Y., Ismadi, Y. B., Tistriati. 2013. Kecernaan Serat Kasar dan Energi Metabolis Ternak Babi yang beri Ransum dengan Berbagai Level Protein Kasardan Serat Kasar.Aglicultire Journal, 2(1): 9-17










